Kisah Sedih, Tes PPPK Dinilai Tak Sebanding Dengan Pengorbanan Guru Honorer, Nadiem Makariem Dapat Surat Terbuka, Simak Bun -->

Kisah Sedih, Tes PPPK Dinilai Tak Sebanding Dengan Pengorbanan Guru Honorer, Nadiem Makariem Dapat Surat Terbuka, Simak Bun

Kamis, 16 September 2021

Bantuanguru.com - Rangkaian rekrutmen Calon Aparatur Sipil Negara (CASN) 2021 telah dilaksanakan, salah satunya adalah pendaftaran Calon Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (CPPPK). Pegawai Pemerintah Dengan Perjanjian Kerja (PPPK) adalah warga negara Indonesia yang memenuhi syarat tertentu, yang diangkat berdasarkan perjanjian kerja dalam jangka waktu tertentu.


Pengangkatan ini dalam rangka melaksanakan tugas pemerintahan. Namun, ada beberapa rangkaian alur yang harus di lakukan untuk lolos dalam seleksi PPPK Guru.


Di antaranya adalah Ujian Seleksi Kompetensi, yaitu bagi pelamar yang telah lulus seleksi administrasi akan melaksanakan Ujian Kompetensi sesuai Formasi yang dipilih.


Dalam ujian ini terdapat 135 sampai 155 soal yang harus dikerjakan calon pegawai dalam waktu 170 menit.


Terdapat kebijakan afirmasi dalam seleksi guru PPPK bahwa yang memiliki sertifikat pendidik, peserta berusia lebih dari 35 tahun, peserta disabilitas, dan guru honorer THK-2 akan diberikan tambahan nilai dalam penilaian kompetensi.


Namun, baru-baru ini sempat viral sebuah postingan di Facebook yang menuliskan surat terbuka kepada Menteri Pendidikan Nadiem Makarim. Postingan tersebut diunggah oleh akun Facebook Mike Riana pada Rabu, 15 September 2021.


Dalam kurun waktu satu hari postingan itu telah dibagikan sebanyak 5.856 kali oleh pengguna Facebook, dan mendapat 6.949 komentar dari warganet.


Penulis surat terbuka kepada Nadim Makarim tersebut diketahui merupakan seorang pengawas ruang PPPK yang bernama Novi Khassifa.


Novi menilai bahwa soal-soal Uji Kompetensi yang dijadikan syarat kelulusam seleksi PPPK Guru Honorer tak sebanding dengan perjuangan dan pengabdian mereka selama berpuluh-puluh tahun lamanya.


Dalam tulisannya ia menceritakan seorang bapak asal Tulungagung, Jawa Timur yang berusia 57 tahun sedang mengikuti Uji Kompetensi PPPK. Namun bapak tersebut tak bisa meraih Passing Grade yang telah disyaratkan untuk kelulusan.


Beliau terlihat jelas sedih ketika nilai-nilai hasil tesnya terpampang di layar monitor.


“Tahun ini mas menteri memberikan secercah harapan untuk beliau. Program PPPK untuk memberikan harapan kehidupan yang lebih layak.


Tetapi tahukah mas menteri? Soal-soal yang mas menteri berikan hanya teori belaka saja. Tak sebanding dengan praktik pengabdian berpuluh-puluh tahun lamanya.


Soal-soal yang memuat beliau terseok-seok ketika memegang mouse dan membuat kepalanya pening.


Akhirnya, Passing Grade pun tak diarih. Pecahlah tangis beliau di dalam hati. Terlihat jelas ketika nilai-nilai itu terpampang di layar monitor. Beliau terdiam seribu bahasa.


Entahlah, apa yang dipikirkan. Melihatnya saya pun ikut terisak.


Memang benar beliau tak secerdas, sejenius, sekreatif mas menteri. Tetapi beliaulah yang menjadi pelita di tengah gulita buta aksara di pelosok negeri.” Tulis Novi Khassifa.


Tulisan itupun diakhiri dengan kata-kata,


“Dari saya, Novi Khassifa. Pengawas ruang PPPK, ditulis dengan berurai air mata.” Pungkasnya.


Demikian informasi yang dapat bantuanguru.com berikan mengenai Kisah Sedih, Tes PPPK Dinilai Tak Sebanding Dengan Pengorbanan Guru Honorer, Nadiem Makariem Dapat Surat Terbuka, Semoga ada manfaatnya unutk rekan-rekan guru semua.